HASANAH DI DUNIA DAN HASANAH DI AKHIRAT


🌾 Makna Do'a :

(رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)
"Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami di dunia ini hasanah (kebaikan) dan di akhirat hasanah (kebaikan). Lindungilah kami dari adzab api neraka."

🎖 al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
💐 « Hasanah di dunia » : meliputi semua permintaan duniawi, berupa penjagaan, rumah tinggal yang lapang, isteri yang baik, anak yang berbakti, rizki yang luas, ilmu bermanfaat, dan amal shalih.
💐 « Hasanah di akhirat » : yang tertinggi adalah masuk al-Jannah (surga) dan semua hal yang berkaitan dengannya berupa keamanan pada hari ketakutan terbesar, kemudahan dalam hisab, dan lainnya dari berbagai urusan akhirat, serta penjagaan dari api neraka.

🌙 al-'Allamah as-Sa'di rahimahullah berkata,
"Do'a ini merupakan do'a paling lengkap dan paling sempurna. Oleh karena itu doa ini merupakan doa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– yang terbanyak."

🍂 asy-Syaikh al-'Utsaimin rahimahullah berkata,
"Sesungguhnya doa ini adalah doa yang paling lengkap.
⛱ « Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami di dunia ini kebaikan » : meliputi semua kebaikan dunia, berupa isteri yang shalihah, kendaraan yang nyaman, tempat tinggal yang tenang, dan lain-lain.
⛱ « dan di akhirat kebaikan », juga meliputi semua kebaikan di akhirat, berupa hisab yang mudah, pemberian kitab catatan amal dari arah kanan, melewati ash-Shirat dengan mudah, minum dari telaga Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam–, dan masuk surga, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya.
🍒 Jadi doa ini di antara doa terlengkap, bahkan yang paling lengkap karena doa ini mencakup semua hal."
📚 Syarh Riyadh ash-Shalihin, 6/16

#hasanah #akhirat #jannah
#alutsaimin #assadi #ibnukatsir

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~


SEMPITNYA WAKTU

Oleh: Ummu Sholih

💐 Saudara-Saudariku yang semoga selalu dilapangkan dalam kebaikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā...

🍃 Apakah kita..

Sering luput dari dzikir pagi dan petang?

Merasa tidak sempat untuk sholat rawatib?

Merasa sibuk untuk menghadiri majelis ilmu?

Kehabisan waktu untuk membaca 1 halaman Al Qur'an?

Merasa lelah ketika akan sholat malam?

Dan kehabisan agenda untuk mengunjungi  teman yang sakit?

🍃 Tetapi kita...

Selalu sempat menonton berita di internet.

Tidak pernah ketinggalan up date dan mengikuti status di facebook.

Selalu aktif berkomentar dalam grup-grup watsapp.

Dan, tidak pernah absen dalam menghadiri majelis ghibah dan senda gurau.

🍃 Apakah kita...

Merasa waktu kita sangat sempit dan sedikit untuk melakukan hal-hal bermanfaat?

Merasa kesibukan dunia kita terlalu padat sehingga sering berudzur meninggalkan ibadah kita?

🍂 Mungkin... itu tanda tidak adanya keberkahan dalam waktu kita.

🌴 Berkata seorang sahabat Nabi yang mulia Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu:

"Aku tidaklah menyesali sesuatu lebih besar dari pada penyesalanku terhadap satu hari yang berlalu, berkurang umurku, dan tidaklah bertambah amalku."

🌴 Seorang ulama salaf, Hakim, juga berkata:

"Barangsiapa yang harinya berlalu tanpa ada kebenaran yang ia tegakkan; atau kewajiban yang ia laksanakan; atau kemuliaan yang ia raih; atau perbuatan terpuji yang ia kerjakan; atau kebaikan yang ia rintis, atau ilmu yang ia kutip. Sungguh ia telah mendurhakai waktunya, dan mendzolimi dirinya."

Maka mari kita perhatikan, bahwa para salafus shalih tidaklah menilai bahwa suatu waktu menjadi bermanfaat dari banyaknya kekayaan dihasilkan; atau gelar kehormatan yang diraih; atau ketenaran didapat.

🍃 Tetapi, dari banyaknya amal sholih yang dihasilkan dari waktu tersebut.

💐 Saudara-Saudariku yang semoga selalu dilapangkan dalam kebaikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'ālā...

🌿 Para salaf terdahulu merupakan orang-orang yang sangat memperhatikan masalah waktu, mereka berkata:

"Sesungguhya menyia-nyiakan waktu itu  lebih berat daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu  memutuskan seseorang dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian memutuskan seseorang dari keluarga dan dunianya."

🌿 Berkata Hasan Al Bashri rahimahullah:

"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah hari-hari. Apabila pergi harimu, berarti telah pergi sebagian dirimu."

🌿 Juga Beliau berkata:

"Tidaklah hari itu muncul bersama terbitnya fajar, keculai ia berkata:

'Wahai anak Adam, aku adalah makhluk yang baru, dan aku bersaksi atas amal-amalmu, maka berbekallah denganku, karena sesungguhnya bila aku pergi aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat nanti'."

🍃 Janganlah kita mengira bahwa perkataan mereka hanyalah perkataan kosong tanpa bukti.

Sebaliknya, sangat banyak catatan-catatan mengenai semangat mereka dan kesungguhan mereka dalam menjaga waktu.

🌱 Di antaranya perkataan orang-orang tentang Abdullah putra Imam Ahmad:

"Demi Allah, kita tidak melihatnya kecuali ia sedang tersenyum, sedang membaca atau sedang menelaah kitab."

🌱 Begitu pula, dikatakan  tentang Al Khatib Al Baghdadi:

"Tidaklah kami melihat beliau kecuali beliau sedang menelaah sebuah kitab."

🌱 Imam Ad Dzahabi menyebutkan tentang Abdul Wahab Bin Abdil Wahhab Al Amiin:

"Sesungguhya ia sangat menjaga waktunya, tidaklah berlalu 1 jam kecuali ia membaca Al Qur'an atau berdzikir atau sholat tahajjud atau memperdengarkan bacaan Al Qur'an."

🌿 Masih banyak kisah yang menakjubkan dari para salaf dalam memanfaatkan waktu..

🌱 Berkata seorang murid Al Imam Abdur Rahman bin Mahdi rahimahullah tentang Imam Hammad bin Salamah:

"Seandainya dikatakan kepada Hamad bin Salamah bahwa esok ia mati, maka ia tidak sanggup lagi untuk menambah amalannya sedikitpun."

MasyaAllah..

Hal itu dikarenakan banyaknya amalan yang ia lakukan secara rutin!

🌱 Berkata Ammar bin Raja':

"Saya melewati 30 tahun tidak makan dengan tanganku di malam hari, dan saudara perempuankulah yang menyuapiku, karena kesibukanku menulis hadist."

Begitu pelitnya beliau dengan waktu, sampai tidak mau waktunya berkurang karena makan!

🌱 Tidak kalah mengagumkan kisah Imam Ibnu Jarir At Thabari. Dikisahkan bahwa ia berkata pada  teman-temannya:

"Apakah kalian berminat menulis tafsir Al Qur'an?"

Mereka menjawab:

"Berapa panjangnya?"

Ia berkata:

"30 ribu lembar."

Para sahabatnya terkejut dan berkata:

"Kalau begitu bisa habis umur kami."

Maka beliau pun meringkasnya menjadi tiga ribu lembar dan mendiktekannya kepada para sahabatnya selama 7 tahun.

Setelah selesai,  ia kembali berkata:

"Apakah kalian berminat pada tarikh (sejarah) sejak Nabi Adam sampai jaman kita ini?"

Mereka kembali bertanya:

"Berapa panjangnya?"

Dan beliau menyebutkan sebagaimana perkataan beliau pada tafsir, maka mereka menjawab dengan jawaban yang sama, maka Ibnu Jarir berkata:

"Inna lillah.. Sungguh telah mati kesungguhan."

Dan ia pun kembali meringkasnya sebagaimana ia meringkas tafsir.

🍃 Kita mungkin tidak bisa meraih keberkahan seperti mereka, tapi setidaknya kita dapat mengusahakannya, agar waktu kita dapat menjadi ladang amal yang bermanfaat di akhirat kelak.

🍂 Bukan sebaiknya, menjadi sumber penyesalan dan kerugian di akhirat nanti.

Saudara-Saudariku yang semoga selalu dilapangkan dalam kebaikan oleh Allāh Subhānahu wataala.

🗒 Berikut beberapa cara agar waktu kita menjadi barakah adalah:

▪️ Beriman dan bertakwa.

▪️ Melazimi Al Qur'an, karena Allah berfirman yang artinya:

"Dan Kitab ini (Al Qur'an) yang kami turunkan dengan penuh berkah, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar engkau mendapat rahmat."

(QS Al An'am: 155)

▪️ Memperbanyak beramal sholih baik dengan hati, lisan dan perbuatan.

▪️ Bersegera beramal sejak pagi hari, sebagaimana doa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam:

"Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi hari mereka."

▪️ Menjaga sholat fajr (sholat subuh) karena menjaga sholat subuh adalah kunci keberkahan sepanjang hari.

▪️ Belajar ilmu atau mengajarkannya.

🍃 Maka, mari kita bersungguh sungguh memanfaatkan waktu kita.

Ingatlah, bahwa suatu saat nanti kita akan menghadapi hari dimana kita harus mempertanggung jawabkannya.

🍂 Hari di mana seorang raja tidak akan meminta kembali istananya; seorang pemimpin tidak akan meminta kembali kekuasaannya dan orang yang kaya tidak akan meminta dikembalikan hartanya.

Tetapi mereka semua akan meminta dikembalikan WAKTU yang mereka habiskan tanpa amal shalih!

جعلنا الله مباركاً أينما كنا

🌱 Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'ālā selalu memberkahi dimanapun kita berada.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥 Facebook Page :
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel :
http://bit.ly/TausiyahBimbinganIslam


Tafsir Surah Al Maun

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان

Surat ini dikhilafkan oleh para ulamā apakah dia surat makkiyyah atau madaniyyah.

Dari konteks pembicaraan yang dibahas oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam surat Al Mā'ūn:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ# فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

"Tahukah engkau tentang orang yang mendustakan agama?"

Konteks pembicaraan ini cocoknya turun di Mekkah, tentang orang-orang musyrikin yang mereka mendustakan agama dan hari kebangkitan.

Dari sini jumhūr ulamā mengatakan bahwa surat ini adalah surat makkiyyah.

Sedangkan sebagian ulamā mengatakan surat ini surat madaniyyah, kenapa?

Karena topiknya dalam surat ini, Allāh menyebutkan orang-orang munāfiq.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

"Orang-orang yang shalāt namun mereka riyā."

Dan orang-orang munāfiq tidak ada di Mekkah. Orang-orang munāfiq baru muncul di kota Madīnah, sehingga surat ini surat madaniyyah karena turunnya di Madīnah.

Sebagian ulamā juga mengatakan, setengahnya turun di Mekkah dan setengahnya turun di Madīnah.

Wallāhu Ta'āla A'lam bishawab, apakah dia makkiyyah atau madaniyyah tidak menjadi masalah, yang penting kita membahas tentang isinya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman tentang surat ini:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

"Tahukah engkau tentang orang yang mendustakan agama?"

Ad dien adalam bahasa Arab artinya al jaza, sebagaimana pepatah mengatakan:

"Sebagaimana engkau berbuat engkau akan dibalas."

Sebagimana perkataan para ulamā:

الجزاء من جنسالعمل

"Balasan sesuai dengan jenis perbuatan."

√ Seseorang berbuat baik kepada manusia maka Allāh akan berbuat baik kepadanya.
√ Seseorang yang meringankan beban orang lain, Allāh akan ringankan beban dia didunia dan ākhirat.
√ Seseorang yang membahagiakan orang lain Allāh akan bahagiakan dirinya.

Ini sudah otomatis, al jazaa min jinsil amal.

Diantara nama-nama hari kiamat adalah ad dīn, hari pembalasan (yaumul dīn).

Surat ini, topiknya bercerita tentang bagaimana orang yang mendustakan agama dan akhirnya akan menimbulkan akhlaq yang sangat buruk. Bermula dari pendustaan terhadap agama dan hari akhirat.

Oleh karenanya, keimanan terhadap hari akhirat merupakan perkara yang sangat penting.

Barangsiapa yang yakin akan ada hari pembalasan, barangsiapa yang yakin ada hari persidangan dimana dia akan dibangkitkan oleh Allāh, maka dia akan berbuat sebaik baiknya di dunia ini.

Tapi barangsiapa yang tidak yakin dengan hari kebangkitan, tidak yakin adanya hari persidangan, tidak yakin adanya hari pembalasan atau ragu dengan hari tersebut, maka dia akan berani melakukan kemaksiatan.

Dia berani berzina, berani mencuri, berani melakukan macam-macam, kenapa?

Karena dia tidak yakin atau ragu dengan hari kebangkitan, sehingga dia berani melakukan kemaksiatan.

Oleh karenanya, orang yang imannya kuat kepada hari akhirat, maka akan tampak dari perilakunya.

Di sini Allāh menyebutkan tentang sikap orang yang tidak beriman kepada hari pembalasan dimana perilakunya yang sangat buruk.

Kata Allāh:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

"Tahukah engkau tentang orang yang mendustakan agama (hari pembalasan)?"

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

"Itulah orang yang menghardik anak yatim."
 
Kata يَدُعُّ dari artinya mendorong.

Kata Allāh orang yang mendustakan hari pembalasan (hari akhirat) adalah orang yang mendorong anak yatim. Dia tidak peduli menyakiti anak yatim. Dia tidak tahu bahwasanya anak yatim adalah anak yang butuh perhatian.

Kita tahu bahwasanya yatim dalam istilah syariat adalah orang yang ayah meninggal dan dia belum bāligh.

Kalau sudah bāligh tidak bisa dikatakan yatim.

Sebaliknya kata para ulamā, kalau hewan dikatakan hewan yatim kalau induknya  (ibunya) meninggal, kenapa?

Karena yang merawat hewan tersebut adalah induknya.

Oleh karenanya, hewan dikatakan yatim kalau ibunya (induknya) meninggal.

Tetapi kalau manusia dikatakan yatim kalau bapaknya yang meninggal, karena bapaknya yang mengurus dan mencarikan nafkah dan sampai usia bāligh.

Kalau sudah bāligh, sudah dewasa, maka dia bukan yatim lagi. Dia bisa bergerak, dan dia sudah bisa berusaha.

Seperti istilah mualaf, al mualaf artinya orang yang di dekati hatinya. Diistilahkan juga buat orang yang baru masuk Islām, imannya belum kokoh. Maka kita perlu memberi bantuan, kita beri zakat supaya imannya kokoh.

Mualaf ini artinya bukan orang yang masuk Islām secara mutlak, tapi yang baru masuk Islām, baru setahun dua tahun atau beberapa bulan.

Sedangkan orang yang sudah bertahun-tahun masuk Islām tidak bisa dikatakan seorang mualaf.

Kalau semua orang yang berpindah agama lain masuk agama Islām dikatakan mualaf maka seluruh shahābat adalah mualaf, dulu mereka musyrikun kemudian masuk Islām.

Ini adalah istilah yang keliru namun sudah menjadi istilah umum, bahwa semua yang masuk Islām (baru masuk atau sudah lama masuk Islām) tetap dikatakan mualaf. Ini contoh kekeliruan dalam istilah.

Diantara sifat-sifat jāhilīyah adalah mereka meremehkan orang-orang yang lemah sepert anak yatim dan para wanita.

Di zaman jāhilīyah para wanita tidak diberikan warisan, tidak dihargai, begitu pula anak yatim. Anak yatim pada zaman jāhilīyah tidak dihargai, kenapa?

Karena tidak ada yang melindungi mereka. Apabila mereka (anak yatim) memiliki harta yang banyak akan di ambil, digunakan secara dzalim.

Oleh karenanya, Allāh menyebutkan tentang hal ini, bahwasanya orang yang tidak beriman dengan hari kebangkitan (hari pembalasan), maka mereka mendorong anak yatim, sikapnya kasar, membentak, menghardik, mendorong anak yatim, mendzalimi anak yatim, kenapa?

Karena mereka tidak beriman dengan hari pembalasan.

Dan diantara sifatnya:

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

"Tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin."

Bakhil (pelit), di tidak yakin bahwasanya apa yang dia berikan akan dibalas oleh Allāh di dunia dan ākhirat.

Oleh karenanya  dalam hadīts, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :

وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِى قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

"Tidak akan berkumpul dalam hati seorang mu'min selamanya, antara keimanan dengan pelit (tidak mungkin berkumpul)."

(Hadīts riwayat An Nasāi di shahīh kan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh dalam kitāb Shahīh Al Jami’, no. 7616 )

Kalau seseorang pelit berarti imannya kepada hari pembalasan kurang. Dia pelit mengeluarkan uang, berat, seakan-akan uang tersebut hilang tidak akan kembali. Berbeda dengan orang yang beriman dengan hari akhir dia akan mengeluarkan (tidak pelit) dan yakin Allāh akan mengembalikan di ākhirat dengan berlipat ganda.

Oleh karenanya orang ini:

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

"Dia tidak pernah motivasi untuk memberi makan kepada fakir miskin."

Dia tidak pernah memotivasi dirinya untuk memberi makan fakir miskin, apalagi memotivasi orang lain. Ini adalah contoh orang-orang yang bakhil.

Yang lebih parah, orang bakhil dan mengajak orang lain bakhil.

Demikian juga dengan para pelaku maksiat, para pelaku maksiat ingin mencari teman.

Apabila mereka suka melakukan kemaksiatan mereka akan mengajak orang lain agar seperti dia. Supaya tidak dia saja yang dicela, mereka mencari teman. Sehingga apabila sudah banyak temannya, mereka akan mencela orang baik, itulah kegiatan mereka.

Demikianlah apa yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, In syā Allāh besok kita lanjutkan.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 12 Rabiul Akhir 1438 H / 10 Januari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al Mā'ūn
📖 Tafsir Surat Al Mā'ūn bagian 01
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0303


Banyaklah Membaca Al Quran

🏾Ustadz DR.Firanda Andirja, MA

Tatkala Ad-Dhiyaa’ al-Maqdisi akan bersafar untuk menuntut ilmu hadits maka Ibrahim bin Abdil Wahid Al-Maqdisi berwashiat kepadanya seraya berkata :

أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَلاَ تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَّسَرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ

“Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan jangan kau tinggalkan Al-Qur’an. Karena akan dipermudah bagimu apa yang kau cari sesuai dengan kadar bacaannmu”

Ad-Dliyaa’ Al-Maqdisi berkata
فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيْراً، فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيْراً تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيْثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيْرِ، وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَّسَرْ لِي

“Maka akupun melihat hal itu dan sudah sering aku mencobanya. Jika aku banyak membaca Al-Qur’an maka dimudahkan bagiku untuk mendengar dan mencatat banyak hadits. Namun jika aku tidak membaca Al-Qur’an maka tidak dimudahkan bagiku” (Dzail Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rojab Al-Hanbali 3/205)

Ya Allah jadikanlah kami para pecinta Al-Qur’an yang berisi firman-firmanMu… Yang membacanya siang dan tengah malam…

Janganlah jadikan kami orang-orang yang lalai membacanya hanya karena secercah dunia…
Yang merasa dirinya sibuk…
Merasa waktunya kurang…
Tidak sempat untuk membaca Al-Qur’an…

Akan tetapi selalu saja sempat untuk internetan dan bersenda gurau…


Mari Beramal Shalih

"Kemarin adalah sebuah pengalaman,
Hari ini adalah amal,
Dan Esok adalah angan."
(Fudhail bin 'Iyadh dalam Az Zuhud Al Kabiir no 475)

Saudaraku, hanya detik ini kesempatan pasti kita tuk beramal.

Belajarlah dari hari kemarin lalu gunakan hari ini dengan sebaik-baiknya!

Sedangkan esok... masih sebuah angan yang belum tentu dapat dijangkau oleh usia seorang insan.

Ibnu Umar -radhiyallahu 'anhu- menasehati:
"Jika anda berada di sore hari, jangan menunggu waktu pagi dan jika anda berada di pagi hari, jangan menunggu waktu sore."
(HR Bukhari 6416)

Selamat beramal shalih...

✏ Muhammad Nuzul Dzikri

Telegram
@muhammadnuzuldzikri


KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــــــــم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Kaum Muslimin,

Kesempurnaan sebuah agama adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi pemeluk agama tersebut.

Dan alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengabarkan di dalam Al Qurān bahwasanya agama kita (agama Islam) adalah agama yang sudah disempurnakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬اۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan bagi kalian dan Aku telah ridhai Islam ini sebagai agama kalian.”

(QS Al Māidah: 3)

⇒ Ini menunjukkan tentang kesempurnaan agama ini dan bahwasanya Islam adalah agama yang sempurna.

Al Imām Ibnu Katsīr rahimahullāh, ketika beliau menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan:

◆ Bahwasanya ini adalah kenikmatan yang paling besar yang Allāh berikan kepada umat ini karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menyempurnakan bagi umat ini agama.

◆ Tidak ada yang halal, kecuali apa yang Allāh halalkan. Dan tidak ada yang haram, kecuali apa yang Allāh haramkan. Dan tidak ada agama, kecuali apa yang Allāh syariatkan.

⇒ Ini menunjukkan tentang kenikmatan kesempurnaan sebuah agama.

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi, ketika mereka mengetahui tentang ayat-ayat ini mereka berkata kepada 'Umar bin Khaththāb radhiyallāhu 'anhu:

"Ada sebuah ayat yang ada di dalam sebuah kitab kalian, apabila ayat tersebut turun kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai Hari Raya.

Maka 'Umar berkata:

'Apakah ayat tersebut?'

Mereka mengatakan:

'Yaitu firman Allāh':

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬اۚ

⇒ Ini menunjukkan kepada kita, sekali lagi, tentang kenikmatan kesempurnaan agama Islam ini.

Oleh karena itu sebagai seorang Muslim maka hendaklah dia bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang telah memberikan taufik dan hidayah kepadanya sehingga dia bisa memeluk sebuah agama yang telah disempurnakan oleh Allāh 'Azza wa Jalla.

Kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Allāh,

Dan sebagai tuntutan keyakinan kita tentang kesempurnaan agama ini, adalah diharamkannya kita membuat perkara (amalan-amalan) yang baru (bid’ah) di dalam agama ini.

Karena orang yang membuat bid’ah di dalam agama maka seakan-akan dia telah menganggap agama ini belum sempurna sehingga perlu di sana tambahan syariat yang baru.

Dan ini adalah perkara yang tentunya membahayakan agama seorang Muslim.

Bagaimana dia mengatakan bahwasanya agama ini adalah agama yang kurang yang dengan lisannya maupun dengan keadaannya?

Padahal Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menyempurnakan agama Islam ini.

Demikian pula, orang yang melakukan bid’ah di dalam agama, maka seakan-akan dia telah menganggap dan menuduh bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhianati risalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Padahal Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagai seorang Nabi, telah melaksanakan tugasnya.

Di dalam sebuah hadits, Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم

“Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib baginya untuk menunjukkan umatnya kebaikan yang dia tahu dan wajib baginya untuk mengingatkan umatnya kejelekan yang dia tahu.”

(HR Muslim)

⇒ Ini menunjukkan bahwa setiap Nabi, mereka sudah menyampaikan risalah dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nah, kalau kita menganggap bahwasanya di sana ada amalan yang belum disampaikan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berarti kita telah menuduh Beliau mengkhianati risalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Orang yang melakukan bid’ah (amalan yang tidak pernah diajarkan oleh Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam) seakan-akan menganggap bahwasanya ada syariat yang belum disampaikan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Al Imām Malik rahimahullāh, guru dari Imām Syāfi'ī rahimahullāh mengatakan:

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خان الرسالة لأن الله يقول (اليوم أكملت لكم دينكم و أتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا), فما لم يكن يومئذ دينا لا يكون اليوم دينا

“Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam agama Islam kemudian dia menganggap bid’ah tersebut adalah bid’ah yang hasanah (baik) maka sungguh dia telah menyangka (telah menuduh) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhianati risalah Allāh.

Karena sesungguhnya Allāh telah mengatakan, 'Pada hari ini Aku telah sempurnakan agama ini bagi kalian.'

Maka sesuatu yang saat itu bukan termasuk agama Islam maka pada hari ini juga bukan termasuk agama.”

Ini adalah ucapan Imām Mālik yang meninggal pada 179 H dan beliau adalah guru dari Imām Syāfi'ī rahimahullāh.

⇒ Menunjukkan kepada kita tentang bahayanya melakukan bid’ah di dalam agama ini.

Itulah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sumber:
🌍 BimbinganIslam.com
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Abdullah Roy, MA
🔊 Tausiyah Singkat | Kesempurnaan Agama Islam
⬇ Download Audio:
https://goo.gl/m0W2Mq
🌐 Sumber:
https://m.youtube.com/watch?v=okwr3r1FIxE

______________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website: 
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page: 
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv


BUKAN SEKEDAR TAUBAT

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله

Menurut Aqidah Ahlu Sunnah wal Jamā'ah, iman itu ada pasang surutnya.

Kadang naik, kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang.

'Aqidah Ahlu Sunnah wal Jamā'ah mengatakan:

◆ الإيمان يزيد وينقص; يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

◆ Iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Sementara itu, tidak ada manusia yang lepas dari maksiat.

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُالْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Semua anak Ādam pasti bersalah (berbuat dosa), akan tetapi sebaik-baik orang yang berbuat salah (dan berdosa) adalah yang (menaikkan kembali imannya dengan) bertaubat."
(HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mājah, Dārimi)

⇒ Sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang segera bertaubat, kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka, iman itu sudah pasti akan mengalami penurunan, namun belum tentu naiknya.

Karena tidak semua orang berdosa mengiringi/mengimbangi dosanya itu dengan bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Hanya hamba-hamba yang diberi anugerah dan hidayah oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang tergerak hatinya untuk bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan sedikit pula orang-orang yang bertaubat ini yang bersungguh-sungguh taubatnya (taubatan nashūhah).

Yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla katakan di dalam kitab-Nya:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ

"Kecuali orang-orang yang bertaubat lalu dia iringi taubatnya dengan iman dan amal shalih.

Merekalah orang-orang yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla ganti keburukan-keburukan mereka menjadi kebaikan."
(QS Al Furqān: 70)

⇒ Dosa-dosa mereka berubah menjadi pahala,

Berubah (yaitu) dicatat oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadi catatan pahala pada hari kiamat kelak.

Itu berlaku pada orang yang sungguh-sungguh bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang meminta ampun kepada Allāh dan Allāh (adalah) Ghafūrur Rahīm.

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا 

"Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengampuni semua dosa."
(QS Az Zumar: 53)

⇒ Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengampuni semua dosa selama pintu taubat belum tertutup.

Kesempatan bertaubat masih terbuka lebar bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Salah satu contohnya adalah seorang yang telah membunuh 100 jiwa. Lalu dia bertanya kepada seorang 'alim:

"Adakah kesempatan bagiku untuk bertaubat?"

Orang 'alim itu mengatakan:
"Apa yang menghalangimu dari taubat?"

Maka orang ini pun segera bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan taubatan nashūhah, dia:
✓Berhenti dari perbuatan dosanya.
✓Menyesali segala perbuatan-perbuatannya.
✓Ber-azzam untuk tidak kembali lagi melakukan dosa yang sama.
✓Mengiringi taubatnya itu dengan amal shalih.

Orang 'alim ini berkata kepada orang yang baru bertaubat tadi:

"Sesungguhnya kamu tinggal di negeri yang buruk. Pindahlah dari negerimu. Hijrahlah kamu ke negeri yang lainnya.

Di sana ada orang-orang yang menyembah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Maka sembahlah Allāh Subhānahu wa Ta'āla bersama mereka."

Dan mantan tukang jagal ini segera berhijrah (tidak menunda-nunda/menunggu-nunggu lagi).

Dia tidak menunda-nunda amal shalihnya ini.
Karena inilah amal shalih yang akan menyelamatkannya.
Sebagai bukti dia benar-benar bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini adalah bukti bahwasanya dia benar-benar bertaubat (taubatan nashūhah), yaitu taubat yang diiringi dengan iman dan amal shalih.

Dan ciri orang yang bertaubat itu adalah dia segera bangkit memperbaiki diri.

Dengan apa?
Dengan menuntut ilmu, bersungguh-sungguh untuk memahami agama Allāh.

Karena dia tahu dan sadar (bahwa) dengan memahami agama Allāh ini (maka) dia akan mengetahui,
✓Apa yang Allāh ridhai
✓Apa yang Allāh murkai

Sehingga dia dapat memperbaiki diri dan dapat bangkit dari keterpurukannya.

Inilah tanda orang yang benar-benar bertaubat atau dalam istilah lain disebut taubatan nashūhah.

Bukan taubat sambal; di bibir bertaubat tapi (di) kelakuan tidak.
Baru kemarin bilang taubat tapi besok sudah diulangi lagi.
Ini namanya bukan taubat

Orang ini telah bermain-main, tidak menunjukkan azzam (kesungguhan) yang kuat untuk kembali kepada jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Maka syarat taubat itu salah satunya adalah ber-azzam (bertekad kuat/bersungguh-sungguh) untuk tidak kembali kepada dosa yang sama berkali-kali dan dia tidak mempertahankan dosanya itu.

Maka dengan taubat ini, iman hamba yang semula turun dari levelnya, akan kembali lagi ke levelnya.

Dia akan menormalkan kembali grafik iman itu.
Dan apabila dia iringi taubatnya itu dengan amal shalih, maka imannya pun akan naik/bertambah.

Itulah iman dalam pandangan Ahlu Sunnah wal Jamā'ah.

Maka, kita harus benar-benar memperhatikan bagaimana fluktuasi (naik turunnya) iman kita.

Kita kadang-kadang merasakan itu.
Jangankan kita, shahābat yang mulia juga merasakannya.

Hanzhalah Al Ghusayli, salah seorang sekretaris Nabi, merasakan itu.

Dia berkata kepada Abū Bakr Ash Shiddīq ketika, Abū Bakr Ash-Shiddīq bertanya kepadanya:
"Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?"

Hanzhalah mengatakan: "Hanzhalah telah jatuh dalam nifaq."

Maka Abū Bakr Ash Shiddīq berkata: "Apa yang kamu katakan, wahai Hanzhalah?"

Hanzhalah menjelaskan alasannya:
"Kita, wahai Abū Bakar, kalau berada di majelis Nabi dan Nabi mengingatkan kita kepada surga dan neraka, seolah-olah surga dan neraka itu ada di hadapan kita.

Tapi ketika kembali ke rumah kita, bertemu dengan istri kita, sibuk dengan kegiatan kita, pekerjaan kita, kita banyak lupa, begitulah keadaan kita."

Maka kata Abū Bakr Ash Shiddīq, orang kedua di umat ini setelah Nabi Muhammad shallallâhu 'alayhi wa sallam:
"Demi Allāh, wahai Hanzhalah, aku juga merasakan seperti itu."

Coba bayangkan, Abū Bakr Ash Shiddīq saja merasakan imannya naik turun, apalagi kita.

Maka ketika iman kita terasa turun, segeralah kita beristighfar (meminta ampun) kepada Allāh dan bertaubat.

Jadi, taubat itu bukan (hanya) menunggu sadar berbuat dosa (lalu) baru kita bertaubat.

(Akan tetapi) taubat itu dituntut setiap saat, karena kita ini selalu bebuat dosa, baik kita sadari maupun tidak kita sadari.

Maka, (mari) kita imbangi (dosa itu) dengan taubat, istighfar, kembali kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Karena seorang mu'min itu diciptakan selalu (senantiasa) diuji, tergerak untuk kembali ke agama Allāh dan kadang-kadang lupa, namun jika diingatkan dia akan ingat.

Maka, kembalikanlah level iman kita dengan taubat.

Naikkanlah dia (iman) dengan amal shalih setelah kita bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Itulah iman kita.

Mudah-mudahan Allāh Subhānahu wa Ta'āla tetap menjaga & menghidupkan kita tetap di atas iman dan mematikan kita juga di atas iman.

آمين يا رب العالمين
وبالله التوفيق والهداية
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Sumber:
🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 08 Shafar 1437 H / 20 November 2015 M
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Abu Ihsan Al Maidany, MA
🔊 Ceramah Singkat | Bukan Sekedar Taubat
⬇️ Download Audio: https://goo.gl/1YY5Aj
📺 Sumber:
http://yufid.tv/ceramah-singkat-bukan-sekedar-taubat-ustadz-abu-ihsan-al-maidany-ma/
______________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website: 
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page: 
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv


Mengapa Allah Tidak Menghukum Kita


Seorang murid bertanya kepada gurunya : "betapa banyak kita bermaksiat kepada Allah namun Ia tidak menghukum kita.." 

Seorang Syaikh (Guru) menjawab :
Betapa sering Allah menghukum dirimu tanpa kau sadari... 
Tidakkah pernah kau merasakan kehilangan manisnya bermunajat kepada Allah? 
(ketahuilah) tidaklah ada musibah yang menimpa seseorang yang lebih dahsyat daripada kerasnya hati... 

Sesungguhnya bisa jadi hukuman terberat yang akan menimpamu adalah minimnya taufik untuk beramal kebajikan
(Muridku) Tidakkah hari² berlalu melewatimu tanpa bacaan al-Qur'an?! 
Bahkan betapa sering engkau mendengarkan ayat yang Allah berfirman :

لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله... 
"Sekiranya Kami turunkan al-Qur'an ini kepada gunung, niscaya kau kan melihatnya gunung tsb dalam keadaan tunduk dan patuh lantaran takut kepada Allah."

Sedangkan dirimu begitu lalai seakan-akan tidak pernah mendengarkan ayat ini... 
(Muridku) Tidakkah malam² yang panjang berlalu melewatimu sedangkan dirimu terhalang dari qiyamul lail (sholat malam)?! 

Tidakkah musim² kebaikan berlalu melewatimu, yaitu Ramadhan, enam hari di Syawwal, 10 hari Dzulhijjah, dst... Namun dirimu tdk lah mendapatkan taufik untuk memanfaatkan waktu tsb sebagaimana layaknya...?! 

Apakah ada hukuman yang lebih besar dari ini??! 
Tidakkah kau merasa bagaimana beratnya melaksanakan amal ketaatan (saat ini)?! 
Tidakkah kau merasakan betapa lemahnya dirimu ketika berhadapan dg hawa nafsu dan syahwat?!.
Tidakkah kau merasakan bahwa dirimu ditimpa (penyakit) cinta dengan harta, kedudukan dan popularitas?! 

Adakah hukuman yang lebih besar daripada ini?! 
Tidakkah kau merasakan betapa mudahnya (sekarang) dirimu melakukan ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan dusta.  
Tidakkah kau merasa bahwa dirimu sekarang senang dengan menyibukkan diri dengan hal² tidak berguna dan tidak bermanfaat?! 
Tidakkah kamu merasa bahwa dirimu telah melupakan akhirat dan menjadikan dunia sebagai obsesi terbesarmu?! 

Semua ini adalah tipuan yang sejatinya adalah bentuk hukuman dari Allah... 
Maka hati²lah wahai anakku, karena sesungguhnya hukuman paling ringan dari Allah adalah sesuatu yang bersifat materi (dapat diindera) baik itu harta, anak ataupun kesehatan..  
Sedangkan hukuman paling berat adalah yang menimpa hatimu... 
Karena itu pintalah kepada Allah keselamatan dan mohonlah ampun atas dosa²mu...
Karena sesungguhnya seorang hamba terhalang dari taufik untuk beramal ketaatan lantaran dosa yang dilakukannya...

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
قال احد الطلاب لشيخه: 
كم نعصي الله ولا يعاقبنا ..

فرد عليه الشيخ:
كم يعاقبك الله وأنت لا تدري .. ألم يسلبك حلاوة مناجاته .. وما ابتلي احد بمصيبة أعظم عليه من قسوة قلبه ..
ان اعظم عقاب ممكن ان تتلقاه هو قلة التوفيق الى اعمال الخير .. الم تمر عليك الايام دون قراءة للقران بل ربما تسمع الاية التي قال تعالى عنها لو انزلنا هذا القران على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله .. وأنت لاه كأنك لم تسمعها .. الم تمر عليك الليالي الطوال وأنت محروم من القيام .. الم تمر عليك مواسم الخير .. رمضان .. ست شوال .. عشر ذي الحجة ..الخ ولم توفق الى استغلالها كما ينبغي .. اي عقاب اكثر من هذا ؟ 
الا تحس بثقل الطاعات ..الا تحس بضعف امام الهوى والشهوات .. الم تبتلى بحب المال والجاه والشهره .. أي عقاب اكثر من ذلك .. الم تسهل عليك الغيبة والنميمة والكذب .. الم يشغلك بالفضول والتدخل فيما لا يعنيك .. 
الم ينسيك الآخرة ويجعل الدنيا اكبر همك ..
.. هذا الخذلان ما هو الا صور من عقاب الله..

 #‏إحذر  يا بني فان اهون عقاب لله ما كان محسوسا في المال أو الولد أو الصحة ..
وان اعظم عقاب ما كان في القلب .. فاسأل الله العافية واستغفر لذنبك .. فان العبد يحرم التوفيق للطاعات بسبب الذنب يصيبه...

Mengembalikan Jati Diri Ummat Islam

sumber : Hidayatullah

BETAPA sedih rasanya jika menatap realitas kaum Muslimin dewasa ini.  Mereka diselimuti oleh kemiskinan ideologi, moral, dan material. Mereka telah terjangkiti virus hubbud dunya wa karahiyatul maut (kecintaan secara berlebih-lebihan terhadap dunia dan takut mati). Mereka berbuat zhalim karena miskin iman. Dan mereka sering melakukan tindakan yang tidak terkontrol kerena miskin ilmu. Pemimpin mereka mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan.. Mereka tidak peduli dengan nasihat para Nabinya, sehingga mereka kurang wawasan, maka gelaplah pikiran dan mata hati mereka dalam mengelola problem yang di hadapi.

Mereka bukanlah penguasa-penguasa di bumi seperti yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Umat Islam yang dijuluki khairu ummah (umat yang paling baik), hanyalah sebagai mainan kecil/bola pimpong di tangan kaum kafir dan musyrik. Keberadaan kaum Muslimin belum berhasil menjadikan diri mereka gambaran Al-Quran yang  berjalan secara kongkrit yang bisa disaksikan orang lain. Bahkan, mereka adalah manusia-manusia yang memiliki kelayakan untuk dijajah (qabiliyyah littakhalluf). Jadi, bukanlah musuh yang terlalu kuat untuk dihadapi, tetapi kaum Musliminlah yang kehilangan elan vital, spirit jihad.  

Kaum Muslimin kontemporer bukanlah pahlawan ilmu pengetahuan, sekalipun al-Quran memberikan perintah pertama kali, iqra' (bacalah). Mereka bukanlah orang yang berkepala dingin dalam mengelola konflik, sekalipun mereka telah membaca surat Asy Syura. Mereka bukanlah orang yang kuat dalam aspek militer, sekalipun kitab mereka memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan. Mereka bukanlah orang yang pandai berbisnis, sekalipun pasca Jum’atan diintruksikan untuk bertebaran di muka bumi. Alangkah jauhnya jarak kaum Muslimin dengan kitab sucinya?

Gerangan apakah yang menjadikan pendahulu mereka menguasai hampir separo dunia? Gerangan apakah yang mengubah para penunggang onta di gurun sahara yang sunyi dan gersang menjadi referensi/rujukan pahlawan ilmu dan peradaban dunia? Gerangan apakah yang mengubah suku-suku yang hobi minum-minuman, perang karena dipicu persoalan sepele, makan riba, main perempuan, merampok, menjadi komunitas yang disegani oleh kawan dan lawan? Gerangan apa pula yang membuat penggembala-penggembala yang bodoh menjadi penakluk-penakluk Kekaisaran Persia dan Bizantium?

Langkah Fundamental


Perhatikanlah, apakah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk melahirkan revolusi menakjubkan ini dalam jangka waktu kurang dari ¼ abad. Yang paling utama dan pertama-tama yang dilakukan oleh manusia pilihan itu adalah menanamkan di dalam hati pengikut-pengikutnya kalimatut taqwa, kalimat thayyibah, kalimatun sawa, kalimatut tauhid,  qaulun tsabitun : “laa Ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah”.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah dan dipuja selain Allah Subhanahu Wata’ala. Selain Allah Subhanahu Wata’ala adalah makhluk yang hina (dzalil), bodoh (jahil), faqir (membutuhkan orang lain), ‘ajiz (lemah, tidak kuat menahan ngantuk jika sudah tiba). Betapapun luasnya kekuasaan, keberlimpahan harta, ketinggian ilmu, dan kuatnya pengaruh mereka.

Mereka adalah makhluk yang kecil, remeh, tidak berdaya, tidak ada apa-apanya di hadapan Al-Khaliq, Al-‘Alim, Al-Akram. Semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Ukuran seseorang tidak ditentukan oleh asesoris lahiriyah. Misalnya, kekayaan yang dimiliki, kekuasaan yang digenggam, luasnya wawasan dan ilmu serta pengaruh keturunan (darah biru). Yang paling mulia disisi-Nya hanyalah orang yang bertakwa. [QS: Al Hujurat (49) : 13].

Kalimat tauhid tersebut di atas menanamkan sikap harga diri kaum Muslimin awal. Dan pada saat yang bersamaan tercerabut rasa rendah diri. Hilang jiwa kerdil, dan tertanamlah jiwa besar. Hilang sikap jumud, terbukalah wawasan yang baru, luas tak bertepi. Para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yakin secara bulat bahwa kemuliaan itu  adalah milik Allah, Nabi-Nya dan para mukmin.

Begitu rasa rendah diri lenyap, bersemayamlah di dalam hati mereka identitas yang konstruktif. Mereka bangga bukan karena kelebihan yang mereka miliki, potensi diri yang hebat, dan backing dari kekuatan tertentu, tetapi karena keyakinan yang kuat kepada kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu Wata’ala

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS. Ali Imran (3) : 139).

Kita semua tahu dari sejarah Islam, bagaimana sahabat yang berasal dari orang Arab dusun Rabi’ bin Amir berdiri dengan gagah berani di hadapan Kaisar Romawi, dengan meyakinkan menampakkan kebanggan berislam, tanpa rasa minder sedikitpun, menolak keharusan bersujud di hadapan raja, sekalipun hanya mengendarai keledai kecil dan pakaian sederhana.

Ketika Kaisar Romawi bertanya dengan penuh keheranan, beliau menjawab: “Aku diutus untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan membebaskan mereka dari kesempitan agama menuju keluasan agama.”

Kita tahu bagaimana Umar bin Khathab menolak pakaian-pakaian raja yang diberikan kepadanya ketika ia memasuki Yerusalem sebagai penakluk yang gagah berani. Ia mengatakan, sesungguhnya islam sudah cukup memberikan kemuliaan kepada diri saya. Bukan bersumber dari atribut lahiriyah.

Dari dua kisah tadi, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa kaum Muslimin pertama tidak terpesona dan silau oleh kegemerlapan duniawi, syahwat politik, syahwat perut dan syahwat di bawah perut (syahwatul farji).

Kiat Mengembalikan Harga Diri


Jika kaum Muslimin sekarang ingin mewarisi kepemimpinan/penghulu dunia, mareka harus meraih kembali harga diri/identitas yang hilang. Yaitu dengan memperbaharui daya serap terhadap hakikat kalimat tauhid, laa ilaha illallah. Banyak diantara kita yang terpesona dengan kebesaran lahiriyah. Terkagum-kagum dengan akselerasi sain dan teknologi bangsa lain.
 

Sehingga kita lupa bahwa kita adalah Muslim/mukmin yang lebih unggul di hadapan Allah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
Yang lebih ironis, sebagian kaum Muslim menyembunyikan keimanannya. Seakan-akan keyakinan itu urusan pribadi, dan mengganggu orang lain. Kadang merendahkan kalimat salam, hanya karena takut dikenali sebagai Muslim. Mereka ragu/skeptis bahwa ajaran Islam adalah sumber kemuliaan dan kejayaan di dunia ini dan di akhirat.

Lihatlah ghirah keislaman Ibnu Masud, yang dikenal seorang ‘alim al-Muqri’ (penghafal al-Quran)  dari kalangan sahabat. Dialah orang yang pertama membacakan Al-Quran kepada kaum kafir setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Setelah kaum kafir bersepakat melarang orang mendengarkan Al-Quran, para sahabat berkumpul di suatu tempat. Mereka membahas situasi dan berkesimpulan bahwa salah seorang diantara mereka harus membacakan Al-Quran di hadapan kerumunan dan hiruk pikuk para kuffar dengan kesiapan menanggung resiko yang tidak mudah dan sederhana.

Ternyata, Ibnu Masud yang berkaki kecil itu bersedia melakukannya. Sahabat-sahabat yang lain menolaknya dengan mengatakan : Kami merasa khawatir tentang dirimu. Yang kami perlukan adalah seseorang yang didukung oleh keluarga-keluarganya yang memiliki akses ekonomi dan kekuasaan kabilah Quraisy sehingga meminimalisir penyiksaan kaum kafir.
Sekalipun beliau saat itu kurang dikenal, tetapi bersikeras untuk melaksanakan tugas. Beliau pergi ke pasar dan membaca Al-Quran dengan suara keras. Maka, orang-orang kafir menyiksanya. Dan beliau kembali kepada keluarganya dengan wajah berlumuran darah.

Para sahabat bertanya, Inilah yang kami khawatirkan? Abdullah menjawab;”Kaum kafir itu belum pernah sedemikian hina di mataku kecuali untuk hari ini. Jika kalian sudi, saya akan mengatakan hal yang sama di hadapan mereka besok atau lusa. Tidak, anda salah membacakan kepada mereka apa yang mereka benci.”

Pernyataan Abdullah itu menggambarkan pengaruh/efek dari tauhid/aqidah yang sangat mendalam (atsarun fa’aal) dalam kehidupannya. Sekarang ini, ketika semua filsafat gagal menuntun manusia menuju pintu kebahagiaan, kita merindukan Ibnu Mas’ud, Ibnu Mas’ud pada abad 20. Yaitu, disamping bangga sebagai Muslim, hamba Allah Subhanhu Wata’a, pula siap menanggung resika yang paling pahit demi keimanan yang diyakininya.

Kita perlu meraih kembali identitas Muslim yang telah hilang. Agar tidak mudah silau dengan kemegahan dunia lain. Dan kita tanamkan kembali bahwa sumber kemuliaan yang tidak akan pernah kering oleh perputaran peradaban adalah berasal dari Allah, Rasul-Nya dan kaum beriman sendiri. Bukan atribut yang diimpor dari asing. Di bawah naungan-Nya, rahim Islam pernah melahirkan para pahlawan yang patriotik.

Dengan meraih kembali harga diri itu, kaum Muslimin akan bersikap tegas terhadap orang kafir dan kasih sayang kepada orang-orang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ
يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”
(QS: Al Maidah (5) : 54).
 

Sumber Kemuliaan Hakiki

Umat Islam diajarkan untuk tidak bangga dengan atribut yang semu, kebanggaan etnis, kekayaan, warna kulit, asesoris lahiriyah.  Karena hal itu akan membawa kehancuran dan penyesalan tiada akhir. Tetapi, Islam mengajarkan pemeluknya untuk bangga menjadi hamba Allah yang taat, patuh terhadap hukum-Nya. Tidak meletakkan dahi kepada siapapun. Karena dahi ini hanya layak diletakkan untuk ta’zhim dan hurmat kepada Zat Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Kebanggan terakhir ini akan mendatangkan kemuliaan dan kemenangan.
 

Sesungguhnya pemilik kekuasaan tanpa pensiun dini, kekayaan yang tidak pernah habis, ilmu yang tidak pernah kering, hanyalah Allah Subhanahu Wata’ala. Dia berkuasa menurunkan orang yang tadinya memiliki kedudukan tinggi menjadi hina dalam sekejap. Dan Dia berkuasa mengangkat seseorang yang tidak diperhitungkan, orang kecil, menjadi mulia dalam waktu yang singkat pula. Kekuasaan, harta, ilmu, yang dimiliki oleh manusia hanyalah hak guna dan hak pakai. Bukan hak milik. Kita perlu muhasabah, bukan sekedar mempertanyakan apakah kepemilikan kita itu sudah sah secara formal, tetapi apakah yang menjadi milik kita menambah kebaikan diri kita dan bermanfaat untuk banyak orang (barakah)?

Apakah jabatan kita memuliakan kita? Apakah harta kita menambah kebaikan keluarga kita? Apakah ilmu kita dirasakan manfaatnya oleh banyak orang? Apakah pengaruh kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala? Apakah anak dan isteri kita sebagai sumber kebahagian dan ketenteraman kita?
 

Ahli sastra Arab mengatakan: "Jika engkau membawa keranda ke kuburan ingatlah suatu ketika engkau akan digotong. Dan jika engkau diserahi urusan kaum ingatlah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan)".*

RAHASIA DI BALIK MUSIBAH

Oleh : Ulis Tofa. Lc.
Sumber : Dakwatuna

Tidaklah Allah swt. menciptakan peristiwa, atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan potensi yang Allah swt. berikan kepadanya; penglihatan, pendengaran, hati, panca indra yang lain agar difungsikan untuk merenung hikmah dibalik peristiwa.

قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Al-An’am:11)

Ayat yang senada seperti di atas sangatlah banyak dalam Al-Qur’an. Dengan redaksi yang beragam, tapi kesimpulannya adalah satu, menggunakan pemberian Allah untuk merenung dan mengambil pelajaran yang sangat berharga dari berbagai peristiwa bencana yang terjadi silih berganti ini. Ada beberapa rahasia dibalik musibah dan bencana yang selama ini terjadi bahwa:
Pertama, Allah Penentu Kehidupan, Dzat yang Maha Perkasa.
Bahwa dibalik kehidupan ini ada yang punya, ada yang mengatur. Dialah Allah Rabbul Izzah, Tuhan yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan. Di Genggaman-Nya lah semua kehidupan ini dikendalikan. Allah hanya butuh berkata “Kun Fayakun, terjadi! maka terjadilah”. Allah memiliki nama-nama, di antaranya; Al-Khaliq –Pencipta-, Al-Muhaimin –Yang Mengatur-, Al-Muhyi –Yang Menghidupkan-, Al-Mumit –Yang Mematikan-, Adh-Dhaar –Yang Memberi Madharat-, An-Nafi’ –Yang memberi Manfaat-, dst.
Manusia tidak bisa mengatur-atur. Manusia tidak mungkin bilang “hai merapi, berhenti meletus… dst”, sebagaimana yang kita dengar dari pusat ahli vulkanologi dan mitigasi bencana. Allah swt. punya kehendak-Nya sendiri, bahkan Kehendak itu sudah ditulis semenjak zaman azali. Allah swt. berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid/57:22)

Perhatikan potongan akhir ayat akhir di atas “Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”

حدثنا عاصم ، قال : سمعت الحسن ، يقول في مرضه الذي مات فيه : « إن الله عز وجل قدر أجلا ، وقدر مصيبة ، وقدر معافاة ، وقدر طاعة ، وقدر معصية ، فمن كذب بالقدر فقد كذب بالقرآن ، ومن كذب بالقرآن ، فقد كذب بالحق »
Al-Hasan ketika menjelang mautnya berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mentaqdirkan ajal, dan mentaqdirkan musibah, mentaqdirkan kesehatan, mentaqdirkan ketaatan, mentaqdirkan kemaksiatan. Maka barangsiapa yang mengingkari taqdir, ia berarti mengingkari Al-Qur’an. Barangsiapa mengingkari Al-Qur’an, sungguh ia berarti mengingkari kebenaran.”
Kedua, Musibah Akibat Perbuatan Manusia
Musibah yang menimpa umat manusia adalah karena perbuatan mereka sendiri yang melanggar peraturan Allah, merusak ekosistem kehidupan, banyak melakukan kemaksiatan dan dosa, tidak menjalankan perintah dan syariat-Nya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (31

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. ” Syuro/42:30-31
Bukan karena ada unsur mistik, karena ini, karena itu, seperti karena bulan tertentu, karena hari tertentu dll. yang justeru merusak aqidah umat. Bencana karena ulah manusia, dan itu atas kuasa Allah swt.
Ketiga, Pahala Tergantung Besarnya Musibah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Allah mengujinya. Maka barangsiapa ridha dengan ujian Allah, baginya ridha –dari Allah-, sebaliknya, siapa yang murka, maka baginya murka –dari Allah-.” HR. At-Tirmidzi
Karena itu, tidak perlu putus asa, jangan sampai menggadaikan aqidah dengan
Keempat, Musibah Dalam Rangka Tamhis (Seleksi)
Kehidupan ini bukan statis, tapi berputar. Ada yang baik ada yang buruk, ada yang berhasil ada yang juga gagal. Itu semua adalah dalam rangka untuk menseleksi secara alamiah kualitas manusia, dan sebagai batu ujian; apakah ia lulus dengan predikat baik, lulus dengan catatan, atau malah gagal dalam menjalani usjian tersebut.

وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ
“Dan Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” Al-Ankabut/29:11
Ketika menjelaskan ayat ini, Mujahid berkomentar: “Manusia itu ada yang iman hanya di lisannya saja, maka ketika dia mendapatkan ujian, berupa kehilangan harta atau jiwa, sebagian manusia dilanda fitnah –goncang yang hebat-“ (Tafsir Al-Baghawi, Juz 6, Bab 11, Hal. 235)
Kelima, Istirja’ atau Mengembalikan Semua kepada Allah
Pertama kali menghadapi musibah, hendaknya iman yang berbicara, bukan hawa nafsu yang protes. Karena seseorang ditentukan oleh sikap pertama kalinya terhadap kejadian. Rasulullah saw. mengingatkan “Sesungguhnya sabar itu ketika merespon kejadian pertama kali.” Selanjutnya berdoa kepada Allah swt. agar diberikan pahala atas musibah itu dan memperoleh ganti yang jauh lebih baik.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أصاب أحدكم مصيبة فليقل إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم عندك احتسب مصيبتي فأجرني عليها وأبدلني بها خيرا منها
Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian mendapatkan musibah, maka ucapkanlah; “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami kembali kepada-Nya, “Allahumma ‘indaka ahtasibu mushibatii, fa ajirnii ‘alaihaa waabdilnii bihaa khairan minhaa. Ya Allah kepada-Mu saya ikhlaskan musibah yang menimpaku, maka berilah pahala kepadaku atas musibah ini, dan berilah saya ganti yang jauh lebih baik darinya.” Imam Muslim
Keenam, Musibah Menghapus Kesalahan dan Mengangkat Derajat
Inilah indahnya kehidupan bagi orang yang beriman. Ujian, bencana dan bala akan menggugurkan dosa-dosa dan sekaligus mengangkat derajatnya. Tidak sia-sia, tegantung ia meresponnya. Dari Aisyah ra. ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:

عن عائشة قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول « مَا مِنْ مُؤْمِنٍ تَشُوكُهُ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً » رواه مسلم
“Tiada seorang mukmin yang tertusuk suatu duri atau bahkan yang jauh lebih sakit, kecuali Allah pasti akan menghapus kesalahan dan mengangkat derajat.” Imam Muslim
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « عجبًا لأمرِ الْمُؤْمِن ، إِنَّ أمرهُ كُلَّهُ خيرٌ ، ولَيْسَ ذلِكَ لأحَد إلاَّ للمُؤْمنِ ، إن أصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَر ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وإنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ ، فكَانَ خَيرًا لَهُ »
Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur. Jika sedangkan memperoleh keburukan, ia bersabar, kedua-duanya baik baginya, itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin.” Sahih Ibnu Hibban
Ketujuh, Musibah sebagai Peringatan
Kejadian bencana bisa dimaknai 3 hal; Pertama sebagai siksa, jika itu menimpa orang-orang yang tidak beriman. Kedua sebagai peringatan, jika menimpa orang-orang yang beriman tapi melakukan banyak dosa. Dan ketiga, sebagai sarana mengangkat derajat, yaitu bagi orang yang beriman, hamba-hamba Allah swt.
Allah swt. berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآَيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ (46) öقُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ (47) وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آَمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (48)ÇÍÑÈ وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (49)
46. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang Kuasa mengembalikannya kepadamu?” perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).
47. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, Maka Adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?”
48. dan tidaklah Kami mengutus Para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan Mengadakan perbaikan, Maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.
49. dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”
QS. Al-An’am: 46-49
Ketujuh, Musibah Menyempurnakan Iman

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ مُسْتَكْمِلِ الإِيمَانِ مَنْ لَمْ يَعُدَّ الْبَلاءَ نِعْمَةً، وَالرَّخاءَ مُصِيبَةً، قَالُوا: كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ:لأَنَّ الْبَلاءَ لا يَتْبَعُهُ إِلا الرَّخَاءُ، وَكَذَلِكَ الرَّخَاءُ لا تَتْبَعُهُ إِلا الْمُصِيبَة وليس بمؤمن مستكمل الإيمان من لم يسكن في صلاته” قالوا: ولم يا رسول الله؟ قال: “لأن المصلي يناجي ربه فإذا كان في غير صلاة إنما يناجي ابن آدم”.
رواه الطبراني.
Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dianggap mukmin yang sempurna imannya orang yang tidak menganggap suatu bala’ sebagai sebuah kenikmatan, dan suatu kemudahan sebagai musibah. Para sahabat bertanya: Bagaimana itu ya Rasulullah? Rasul menjawab; “Karena tiak menyertai balak itu kecuali adanya kemudahan. Demikian juga dengan kemudian itu akan disertai dengan musibah.” Ath-Tabrani.
Allah swt. berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)
(5).Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (6) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (7) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (8). dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” QS. Al-Insyirah:5-8.

Dibalik bencana ada hikmah, ada pelajaran, ada kebaikan. Mari kita renungkan, kita temukan rahasia di balik bencana yang selama ini terjadi. Allahu a’lam